Dari Limbah Jadi Berkah: Cara Mahasiswa KKN ULM Sulap Kotoran Sapi dan Daun Kering Jadi Kompos di Batulicin Irigasi

kkn1

BATULICIN, TANAH BUMBU – Bahan-bahan organik yang sering kali berakhir menjadi limbah tak terpakai kini memiliki nilai guna tinggi di tangan masyarakat Desa Batulicin Irigasi. Melalui inisiatif tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), warga setempat diajak memanfaatkan dedaunan kering, tandan kosong kelapa sawit, kotoran sapi, hingga abu pembakaran untuk diolah menjadi pupuk organik padat berkualitas. Kegiatan edukasi dan demonstrasi pembuatan kompos ini berlangsung di Rumah Kompos Desa Batulicin Irigasi, Kabupaten Tanah Bumbu, dengan dipandu langsung oleh jajaran mahasiswa KKNT-LH Kelompok 7 ULM, di antaranya Muhammad Ramadhani, Nika Maria Dani, dan Atania Nikita Tarigan.

Atania Nikita Tarigan, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan ULM, menjelaskan bahwa gagasan pengolahan pupuk ini berawal dari besarnya potensi bahan baku organik di sekitar kawasan desa yang belum tersentuh pemanfaatan secara optimal. Desa Batulicin Irigasi memiliki aktivitas peternakan sapi yang cukup berkembang serta berdekatan dengan area perkebunan kelapa sawit. Kondisi lingkungan ini menghasilkan ketersediaan kotoran ternak dan tandan kosong sawit dalam jumlah melimpah, sehingga masyarakat dapat memperoleh bahan baku pembuatan pupuk secara gratis dan ramah lingkungan tanpa perlu mengeluarkan biaya tinggi.

Salah satu daya tarik utama dari teknik komposting yang diajarkan mahasiswa ULM terletak pada penggunaan arang bubuk yang telah direndam atau difermentasi terlebih dahulu menggunakan Pupuk Organik Cair (POC). Teknik fermentasi arang yang akrab disebut arang baceman ini berfungsi sebagai akselerator alami yang mampu mempercepat masa pematangan kompos. Pada demo pembuatan kompos skala rumahan berkapasitas lima puluh kilogram, mahasiswa memperagakan teknik penyusunan bahan secara berlapis. Proses diawali dengan pembentukan lapisan dasar dari bahan cokelat seperti daun kering dan tandan sawit yang terurai, disusul lapisan kotoran sapi, lalu ditaburi abu murni sisa pembakaran daun yang bersih dari sampah plastik, serta ditutup dengan lapisan arang bubuk fermentasi.

Setelah seluruh bahan tersusun secara proporsional, adonan kompos kemudian dicampur dan diaduk secara merata sembari diperam dengan air secukupnya. Untuk memastikan kadar airnya sudah pas, mahasiswa membagikan tips sederhana tanpa alat khusus, yaitu cukup dengan menggenggam adonan pupuk. Jika adonan yang digenggam membentuk gumpalan dan tidak meneteskan air, hal itu menandakan tingkat kelembapan kompos sudah ideal. Selanjutnya, campuran tersebut disimpan rapat dalam wadah tertututp selama seminggu pertama untuk memicu proses fermentasi. Perawatan berkala dilakukan setiap minggu dengan cara membalik dan menyiram bahan secukupnya agar kelembapan tetap terjaga.

Melalui proses pencampuran dan perawatan yang konsisten, pupuk kompos dapat matang sempurna hanya dalam kurun waktu satu bulan. Tingkat pematangan pupuk tersebut dapat dikenali dari beberapa tanda fisik, seperti suhu racikan yang sudah tidak panas saat disentuh, tekstur gembur, serta warna adonan yang berubah menjadi cokelat kehitaman menyerupai tanah humus alami dengan aroma netral.

Kegiatan pelatihan di Rumah Kompos yang baru didirikan tersebut mendapat sambutan antusias dari warga desa, yang aktif berdiskusi mengenai teknik pengolahan arang fermentasi. Bagi tim KKNT-LH Kelompok 7 ULM, langkah edukasi ini menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendorong kemandirian pupuk di tingkat tapak sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan. Melalui keterampilan baru ini, masyarakat Desa Batulicin Irigasi diharapkan tidak hanya mampu menghemat pengeluaran untuk kebutuhan pertanian, tetapi juga terus tergerak untuk mengelola limbah organik secara produktif dan berkelanjutan.

(humas_fpik)

Blog Attachment
id_IDIndonesian