Ubah Serbuk Kayu Jadi Briket Ramah Lingkungan, Mahasiswa KKN ULM Buka Peluang Energi Alternatif di Batulicin Irigasi

kkn2

BATULICIN, TANAH BUMBU – Serbuk kayu sisa pengolahan kayu yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah tak berguna kini memiliki nilai guna tinggi di tangan masyarakat Desa Batulicin Irigasi. Melalui inisiatif tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 7, limbah serbuk kayu disulap menjadi briket sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket ini dilaksanakan pada Selasa, 28 Juli 2026, bertempat di sekitar pendopo Desa Batulicin Irigasi, Kabupaten Tanah Bumbu. Acara tersebut diikuti oleh sekitar dua puluh warga yang didominasi oleh ibu-ibu. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan teoretis, melainkan memperagakan secara langsung proses pembuatan briket menggunakan peralatan dan bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Penyampaian materi dan praktik pembuatan briket dipandui oleh Abdi Cahaya Girsang dari Fakultas Kehutanan ULM bersama Nabella Melani, Nathania Adzra’ Rusnita, dan Muhammad Fahrizal Hasbi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ULM. Nabella menjelaskan bahwa proses pengolahan diawali dengan pembakaran serbuk kayu secara perlahan menggunakan bantuan sekam hingga berubah menjadi arang bubuk. Arang tersebut kemudian dicampur dengan bahan perekat alami lalu dicetak dan dikeringkan hingga siap dijadikan bahan bakar.

Gagasan memperkenalkan briket ini berawal dari pengamatan mahasiswa terhadap kebutuhan riil masyarakat lokal. Di Desa Batulicin Irigasi terdapat Pasar Jadul, di mana para pedagang masih secara konsisten menggunakan arang tradisional untuk aktivitas memasak sehari-hari tanpa kompor gas. Keberadaan briket dari limbah serbuk kayu ini diharapkan mampu menjadi energi pengganti arang kayu biasa yang dapat diproduksi secara mandiri oleh masyarakat tanpa harus bergantung pada pasokan luar.

Selain memanfaatkan sisa limbah kayu, briket ini terbukti menghasilkan panas yang tahan lama serta menghasilkan bara api yang lebih maksimal saat digunakan. Antusiasme warga terlihat cukup tinggi sepanjang jalannya demonstrasi, bahkan beberapa warga membawa sampel briket ke rumah dan berdiskusi mengenai potensi pengembangan produk tersebut menjadi komoditas bernilai jual. Bagi tim KKNT-LH Kelompok 7 ULM, program edukasi sederhana ini diharapkan dapat menginspirasi kemandirian energi berbasis potensi lokal serta meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola limbah di desa secara berkelanjutan.

(humas_fpik)

Blog Attachment
id_IDIndonesian